Penilaian kinerja berbasis perasaan adalah salah satu racun paling lambat dalam sebuah bisnis.
Jujur saja: apakah Anda pernah mempertahankan karyawan yang tidak produktif karena orangnya “enak diajak bicara”? Atau menegur karyawan yang sebenarnya berkontribusi besar hanya karena gayanya kurang cocok dengan Anda?
Penilaian kinerja berbasis perasaan adalah salah satu racun paling lambat dalam sebuah bisnis. Efeknya tidak langsung terasa, tetapi perlahan merusak budaya kerja.
Penelitian dari SHRM (Society for Human Resource Management) menunjukkan bahwa ketidakjelasan dalam evaluasi kinerja menjadi salah satu alasan utama karyawan berbakat memilih resign.
Karyawan yang rajin dan kompeten akan mulai frustrasi karena merasa kontribusinya tidak dihargai secara objektif. Sementara karyawan yang pandai “berpolitik” justru berkembang bukan karena kemampuan, tetapi karena kepandaiannya membaca selera atasan.
Bisnis yang sehat membutuhkan sistem evaluasi kinerja yang jelas: ada indikator yang terukur, ada proses yang transparan, dan ada konsistensi dalam pelaksanaannya.
Bukan sekadar “rasa”, tetapi data.
Hampir semua bisnis yang belum memiliki sistem HR formal pernah melewati fase ini. Di awal bisnis, keputusan memang banyak bergantung pada insting owner. Namun ketika tim mulai bertambah besar, sistem perusahaan juga harus ikut berkembang.
Penilaian berbasis indikator kerja yang jelas, bukan kedekatan personal.
Karyawan memahami bagaimana performa mereka dinilai dan dievaluasi.
Sistem evaluasi diterapkan secara adil kepada seluruh tim tanpa pengecualian.
PhilAr HR Consultancy membantu bisnis merancang sistem evaluasi kinerja yang objektif, terukur, dan adil agar perusahaan mampu mempertahankan karyawan terbaiknya.
www.philarhrconsultancy.com